Laman

Selasa, 01 November 2011

Dia + Aku = Kami
      Aku sudah terlalu lelah berkorban, terlalu lelah mengikuti kata hati, karena ternyata hatiku tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan,
keputusan yang kerap aku ambil sebagai langkah pembaikan diri, tapi ternyata tak selalu begitu,
aku malah terjatuh dan terus terjatuh, hingga sampai suatu ketika aku menemukan “dia” yang membuat ku bisa seperti sekarang ini;
bangkit, tertawa, bahkan menertawakan kesedihan lalu terbahak menyesali semua tangisan.
aku+dia=kami, karena tak pernah “sepenuhnya” aku merasa “berbagi”, ya pengalaman hidup yang telah “kami” lewati hampir sama kelamnya,
namun sekelam apapun, kami masi bisa tetap berbagi, setelah pertemuan pertama dengannya hingga kini, ada suatu yang bertambah dalam hidupku,
disaat saat aku butuh bahu dan sepasang tangan untuk menentramkan, “dia” selalu ada, untukku, ya, kebersediaan “kami” untuk selalu ada disaat-saat seperti inilah yang kemudian membuatku merasa,
“dia hidupuku, ya sepotong hidupku, berbicara dengannya seperti berbicara dengan diri sendiri, karena pikiran kami satu, ibarat potongan mozaik hidupku yang belum ku temukan, kini telah lengkap
tetapi entahlah, aku tak pernah tahu seperti apa rupanya masa depanku (juga dengannya); jangankan masa depan,
esok mau jadi apa pun aku tak pernah tahu, aku hanya mengikuti arah angin, arus air dan arakan awan di langit nan luas, aku tak mau lagi terlalu berharap,
apalagi dengan hidupku yang seperti saat ini, aku hanya ingin jalannya hidupku kedepan bertambah baik, semoga, dia juga, karena aku, menyayanginya :”)