Dia + Aku = Kami
Aku sudah terlalu lelah berkorban, terlalu lelah
mengikuti kata hati, karena ternyata hatiku tak selalu berbanding lurus
dengan kenyataan,
keputusan yang kerap aku ambil sebagai langkah pembaikan diri, tapi ternyata tak selalu begitu,
aku malah terjatuh dan terus terjatuh, hingga sampai suatu ketika aku menemukan “dia” yang membuat ku bisa seperti sekarang ini;
bangkit, tertawa, bahkan menertawakan kesedihan lalu terbahak menyesali semua tangisan.
aku+dia=kami, karena tak pernah “sepenuhnya” aku
merasa “berbagi”, ya pengalaman hidup yang telah “kami” lewati hampir
sama kelamnya,
namun sekelam apapun, kami masi bisa tetap berbagi,
setelah pertemuan pertama dengannya hingga kini, ada suatu yang
bertambah dalam hidupku,
disaat saat aku butuh bahu dan sepasang tangan
untuk menentramkan, “dia” selalu ada, untukku, ya, kebersediaan “kami”
untuk selalu ada disaat-saat seperti inilah yang kemudian membuatku
merasa,
“dia hidupuku, ya sepotong hidupku, berbicara
dengannya seperti berbicara dengan diri sendiri, karena pikiran kami
satu, ibarat potongan mozaik hidupku yang belum ku temukan, kini telah
lengkap 

tetapi entahlah, aku tak pernah tahu seperti apa rupanya masa depanku (juga dengannya); jangankan masa depan,
esok mau jadi apa pun aku tak pernah tahu, aku
hanya mengikuti arah angin, arus air dan arakan awan di langit nan luas,
aku tak mau lagi terlalu berharap,
apalagi dengan hidupku yang seperti saat ini, aku
hanya ingin jalannya hidupku kedepan bertambah baik, semoga, dia juga,
karena aku, menyayanginya :”)